Friday, November 18, 2011

Hukum Shalat Berjamaah 5 Waktu

Di kalangan ulama memang berkembang banyak pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang mengatakan fardhu `ain, sehingga orang yang tidak ikut shalat berjamaah berdosa. Ada yang mengatakan fardhu kifayah sehingga bila sudah ada shalat jamaah, gugurlah kewajiban orang lain untuk harus shalat berjamaah. Ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah hukumnya fardhu kifayah. Dan ada juga yang mengatakan hukumnya sunnah muakkadah. Tentu masing-masing pendapat itu ada benarnya, sebab mereka telah berijtihad dengan memenuhi kaidah istimbath hukum yang benar. Kalau pun hasilnya berbeda-beda, tentu karena hal ini adalah ijtihad. Sebab tidak ada lafadz yang secara eksplisit di dalam Al-Quran atau hadits yang menyebutkan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya begini dan begini. Yang ada hanya sekian banyak dalil yang masih mungkin menerima ragam kesimpulan yang berbeda. Dan sebenarnya hal seperti ini sangat lumrah di dunia fiqih, kita pun tidak perlu terlalu risau bila ada pendapat dari ulama yang ternyata tidak sejalan dengan apa yang kita pahami selama ini. Atau berbeda dengan apa yang diajarkan oleh guru kita selama ini. Dan berikut kami uraikan masing-masing pendapat yang ada beserta dalil masing-masing, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita dalam ilmu syariah.

 1. Pendapat Kedua: Fardhu Kifayah Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi`i dan Abu Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al-Ifshah jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur ulama baik yang lampau maupun yang berikutnya . Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam. Di dalam kitab Raudhatut-Thalibin karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa: Shalat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk shalat Jumat. Sedangkan untuk shalat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya adalah fardhu kifayah, tapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain. Adapun dalil mereka ketika berpendapat seperti di atas adalah: Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya. Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW, Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi imam. . Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. Al-Khatthabi dalam kitab Ma`alimus-Sunan jilid 1 halaman 160 berkata bahwa kebanyakan ulama As-Syafi`i mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu `ain dengan berdasarkan hadits ini.

2. Pendapat Pertama: Fardhu `Ain Yang berpendapat demikian adalah Atho` bin Abi Rabah, Al-Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al-Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atho` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia mendatanginya untuk shalat.
Dalilnya adalah hadits berikut: Dari Aisyah ra berkata, Siapa yang mendengar azan tapi tidak menjawabnya , maka dia tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan tidak menginginkannya. Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun shalatnya tetap syah. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api. .

3. Pendapat Ketiga: Sunnah Muakkadah Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah sebagaimana disebutkan oleh imam As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Beliau berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya shalat, tentu tidak bisa diterima. Al-Karkhi dari ulama Al-Hanafiyah berkata bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah muakkadah itu sama dengan wajib. . Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan bahwa shalat fardhu berjamaah selain shalat Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Lihat Jawahirul Iklil jilid 1 halama 76. Ibnul Juzzi berkata bahwa shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah. . Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu As-Shaghir jilid 1 halaman 244 berkata bahwa shalat fardhu dengan berjamaah dengan imam dan selain Jumat, hukumnya sunnah muakkadah. Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil-dalil berikut ini: Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. Ash-Shan`ani dalam kitabnya Subulus-Salam jilid 2 halaman 40 menyebutkan setelah menyebutkan hadits di atas bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu berjamaah itu hukumnya tidak wajib. Selain itu mereka juga menggunakan hadits berikut ini: Dari Abi Musa ra berkata bahwa Rasulullah SAw bersabda, Sesungguhnya orang yang mendapatkan ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur.

 4. Pendapat Keempat: Syarat Syahnya Shalat Pendapat keempat adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum syarat fardhu berjamaah adalah syarat syahnya shalat. Sehingga bagi mereka, shalat fardhu itu tidak syah kalau tidak dikerjakan dengan berjamaah. Yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Ibnu Taymiyah dalam salah satu pendapatnya . Demikian juga dengan Ibnul Qayyim, murid beliau. Juga Ibnu Aqil dan Ibnu Abi Musa serta mazhab Zhahiriyah . Termasuk di antaranya adalah para ahli hadits, Abul Hasan At-Tamimi, Abu Al-Barakat dari kalangan Al-Hanabilah serta Ibnu Khuzaemah. Dalil yang mereka gunakan adalah: Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAw bersaba, Siapa yang mendengar azan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur. Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api. . Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya, Apakah kamu dengar azan shalat? Ya, jawabnya. Datangilah, kata Rasulullah SAW.

Tuesday, November 8, 2011

IBADAH KORBAN DAN KELEBIHAN.

Apakah yang dimaksudkan dengan ibadah qurban?

Makna qurban atau disebut al-udhiyyah ialah binatang yang disembelih pada waktu Dhuha. Manakala penegertian dari segi hukum syara’ ialah binatang ternakan seperti kambing,lembu atau kerbau yang disembelih pada Hari Raya Adha atau pada hari-hari Tasyrik ( 11,12 dan 13 Zulhijjah ) dengan niat untuk menghampirkan diri kepada Al’Lah s.w.t.

Sekiranya kalau kita meneliti maksud qurban yang sebenar yang dikehendaki oleh Islam iaitu “Mendekatkan diri kepada Al’Lah s.w.t”, maka seharusnya kita insaf bahawa ianya suatu tuntutan untuk diri kita sendiri. Ianya merupakan suatu ukuran ketaqwaan terhadap hamba-hambaNya. Tidak boleh sesekali kita berqurban kerana atau untuk seseorang, atau sesuatu yang selain daripada Al’Lah s.w.t, sebagaimana kita tidak dibenarkan mengerjakan solat untuk seseorang.

Al’Lah berfirman :
‘Maka bersolatlah kamu untuk Tuhanmu dan bersembelihlah (berqurban untuk Tuhanmu)’(Al-Kausar : 2 )



Jelas di sini, Al’Lah s.w.t meletakkan ibadah qurban itu bersebelahan dengan perintah solat, agar difahamai dalam makna yang betul.
Jadi, tanggapan pada hari ini bahawa qurban itu bertujuan untuk memberi makanan pada orang msiskin, satu konsep yang silap. Konsep ini menyebabkan hilangnya kesuburan dalam melaksanakan ibadat qurban khususnya dalam suasana masyarakat yang mewah kerana keperluan manusia untuk menerima daging qurban itu bukan sesuatu yang terdesak. Insya Allah, Hal ini akan lebih difahami apabila kita melihat fadhilat berqurban. dan kita dapat melihat betapa pentingnya ibadah ini perlu dilaksanakan. Ianya lebih diperlukan kepada sipelaksana daripada sipenerima.


Bagaimana dan bilakah hendak melaksanakannya?

Pelaksanaan ibadah qurban boleh di lakukan dengan menyembelih sendiri haiwan ternakan atau mewakilkannya kepada pihak lain. Waktu bagi melakukan ibadah ini hanya pada hari yang di khususkan oleh syara’ iaitu pada mana-mana diantara 10, 11, 12, dan 13 Zulhijjah setiap tahun.

Apakah hukum melaksanakan ibadah qurban?

Hukum melaksanakan ibadah qurban adalah sunat muakkad. Ini bermakan ia adalah ibadah sunat yang sangat-sangat di tuntut oleh Islam keatas umatnya untuk di lakukan jika berkemampuan.

Apakah kelebihan melaksanakan ibadah qurban?

Antara fadilat dan kelebihan berqurban itu ialah:

1. Keampunan.-Titisan darah qurban yang pertama adalah merupakan pengampunan bagi dosa-dosa yang telah lalu iaitu sebagai penebus dosa yang telah dilakukan. ‘Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhushallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Sayyidatuna Fatimah radhiallahu ‘anha: meriwayatkan bahawa Rasulullah
Maksudnya: “Wahai Fatimah! Pergilah ke tempat (penyembelihan) qurbanmu dan saksikanlah ia, sesungguhnya titisan darahnya yang pertama itu adalah merupakan pengampunan bagimu di atas dosa-dosamu yang telah lalu.”
(Hadis riwayat al-Hakim)

2. Kebajikan (hasanah) yang dikurniakan kepada orang yang berqurban adalah sebanyak bulu binatang yang diqurbankan. Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu meriwayatkan:
Maksudnya: “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah yang ada pada qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Ia adalah sunnah bapa kamu Ibrahim” Mereka berkata: “Apa yang akan kami perolehi darinya wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab: “Bagi setiap helai rambut satu kebajikan” Mereka berkata: “Bagaimana pula dengan bulu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi setiap helai bulu satu kebajikan.”
(Hadis riwayat Ibnu Majah)


Pengertian kebajikan (hasanah) mempunyai maksud yang berbeza-beza di kalangan para ulama ahli tafsir. Hasanah adalah satu perkataan yang mempunyai maksud yang subjektif. Banyak penjelasan daripada mereka tentang tafsiran kalimah ‘hasanah’. Antaranya:

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kebajikan atau kebaikan (hasanah) di dunia itu meliputi semua yang bersifat keduniaan seperti sihat, selamat, tempat tinggal yang luas, isteri yang baik, rezeki yang banyak dan sebagainya. Manakala hasanah di akhirat pula, yang paling tinggi ialah masuk syurga dan selanjutnya semua kebahagiaan yang menjadi pelengkap kehidupan dalam syurga itu.”
Menurut al-Qadhi al-‘Iyadh rahimahullah, maksud hasanah itu ialah ni‘mat iaitu sama ada ni‘mat dari segi limpahan kurnia di dunia atau limpahan kurnia di akhirat atau ni‘mat terpelihara dari siksaan.
Manakala menurut Imam al-Qurthubi rahimahullah, maksud hasanah ialah iman. Sebagai contoh, barangsiapa yang mengucapkan syahadah, maka baginya setiap amalan kebaikan yang dilakukannya di dunia ini akan digandakan dengan sepuluh ganda dari segi pahalanya. Abu Dzarr radhiallahu ‘anhushallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: meriwayatkan bahawa Rasulullah
Maksudnya: “Allah ‘azz wa jall berfirman: “Sesiapa yang datang (melakukan) satu kebajikan, maka baginya sepuluh ganda pahala sepertinya dan Aku (Allah) akan menambahnya lagi.”
(Hadis riwayat Muslim)

3. Darah qurban yang tumpah ke bumi akan mengambil tempat yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta‘ala. ‘A’isyah radhiallahu ‘anha meriwayatkan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Maksudnya: “Tidak ada amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada Hari Raya Qurban yang lebih disukai Allah melainkan menumpahkan darah (menyembelih binatang qurban). Sesungguhnya binatang qurban itu akan datang pada Hari Kiamat bersama tanduk, kuku dan bulunya dan Allah memberi pahala ibadah qurban itu sebelum darah binatang qurban itu jatuh ke bumi. Oleh itu, elokkanlah qurban kamu.”
(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Dalam kesemua fadilat yang telah sebutkan, tak ada cerita nak bagi orang makan. Semuanya dapat pada pelaksana. Oleh yang demikian, peluang melakukan ibadat qurban yang hanya datang beberapa hari dalam setahun di bulan Zulhijjah tidak wajar diabaikan dan dilepaskan peluang yang tidak ternilai itu begitu saja. Walaupun berqurban itu hukumnya hanyalah sunat sahaja iaitu sesiapa yang melakukannya mendapat pahala dan sesiapa yang meninggalkannya tidak berdosa, namun demikian kita hendaklah melihat perkara sunat itu dari perspektif yang berbeza bahawa sesiapa yang meninggalkannya “Alangkah ruginya!”. Lebih-lebih lagi kepada mereka yang berkemampuan yang mana menurut Imam asy-Syafi‘e: Tidak ada kelonggaran untuk meninggalkan (ibadat qurban) bagi orang yang mempunyai kemampuan. Jika ditinggalkan juga, maka hukumnya adalah makruh.

Apakah binatang-binatang ternakan yang dibenarkan untuk pelaksanaan ibadah qurban dan aqiqah?

Binatang-binatang ternakan yang di benarkan untuk pelaksaan qurban dan aqiqah ialah seperti unta, lembu, kambing, kerbau, kibas dan yang seumpama dengannya.
Berapa bilangan (ekor/bahagian) haiwan ibadah qurban yang di galakkan?
Bagi setiap seekor lembu, unta atau kerbau itu boleh dibahagi kepada 7 bahagian. Bahgian paling sedikit yang harus dalakukan oleh seseorang itu adalah satu bahagian dan tiada batasan untuk bilangan paling banyak. Seseorang muslim itu boleh melaksanakan ibadah qurban ini sebanyak mungkin mengikut kemampuannya. Adapun bagi kambing pula, bagi seekor kambing tidak boleh dibahagi mengikut bahagian seperti lembu. Maka bagi setiap kambing itu adalah untuk seorang muslim sahaja.

Sumber diperoleh dari www.ezqurban.org



SEMUGA KORBAN KITA DITERIMA OLEH ALLAH SWT.

AMIN...

Thursday, November 3, 2011

10 Sifat Individu Muslim




Muslim yang ingin mempersiapkan diri dalam perjuangan Islam perlu memperbaiki dirinya agar sentiasa terkehadapan daripada manusia lain.

Risalah Islam yang syumul ini hendaklah difahami dengan membentuk diri yang syumul juga. Maka hendaklah diteliti di sini tentang aspek-aspek seorang da’ie Muslim dalam rangkanya untuk menjadi seorang Muslim yang sempurna.


Sifat-sifat yang perlu ada pada diri ialah:

1) Kuat tubuh badan (Qawiyyal Jism)

Dakwah adalah berat pada tanggungjawab dan tugasnya, maka di sini perlunya seorang da’ie itu tubuh badan yang sihat dan kuat. Rasulullah saw menitikberatkan soal ini, sabdanya:
“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dikasihi Allah dari mukmin yang lemah, tetapi pada keduanya ada kebaikan.”

Kita juga hendaklah sentiasa memeriksa kesihatan diri, mengamalkan riadah dan tidak memakan atau minum suatu yang boleh dan diketahui merosakkan badan.


2) Akhlak yang mantap (Matinul Khuluq)

Akhlak kita ialah Al-Quran dan ianya terserlah pada diri Nabi saw. Telah dijelaskan beberapa unsur oleh Imam Al-Banna dalam kewajipan seorang da’ie iaitu bersifat sensitif, tawadhu’, benar dalam perkataan dan perbuatannya, tegas, menunaikan janji, berani, serius, menjauhi teman buruk dan lain-lain.


3) Fikiran yang berpengetahuan (Mutsaqqafal Fikri)

Seorang da’ie perlu berpengetahuan tentang Islam dan maklumat am supaya mampu menceritakan kepada orang lain perihalnya di samping perlu bersumberkan kepada Al-Quran dan Hadis serta ulama’ yang thiqah.

Pesan Imam Banna:
“Perlu boleh membaca dengan baik, mempunyai perpustakaan sendiri dan cuba menjadi pakar dalam bidang yang diceburi.”

Selain itu, seorang da’ie perlu mampu membaca Al-Quran dengan baik, tadabbur, sentiasa mempelajari sirah, kisah salaf dan kaedah serta rahsia hukum yang penting.



4) Mampu berusaha (Qadiran ala Kasbi)

Seorang da’ie walaupun kaya, perlu bekerja. Dia juga tidak boleh terlalu mengejar jawatan dalam kerajaan. Dalam keadaan tertentu, meletakkan jawatan dan meninggalkan tempat kerja mengikut keperluan dakwah lebih utama dari gaji dan pendapatan yang diterima. Selain itu, dia hendaklah sentiasa melakukan setiap kerja dengan betul dan sebaiknya (ihsan). Dalam soal kewangan, menjauhi riba dalam semua lapangan, menyimpan untuk waktu kesempitan, menjauhi segala bentuk kemewahan apatah lagi pembaziran dan memastikan setiap sen yang dibelanja tidak jatuh ke tangan bukan Islam adalah beberapa perkara penting yang perlu dititikberatkan dalam kehidupan.


5) Akidah yang sejahtera (Salimul Aqidah)

Seorang da’ie semestinya redha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir. Sentiasalah muraqabah kepada Allah dan mengingati akhirat, memperbanyakkan nawafil dan zikir. Di samping itu, jangan dilupakan tugas menjaga kebersihan hati, bertaubat, istighfar, menjauhi dosa dan syubhat.


6) Ibadah yang betul (Sahihul Ibadah)

Seorang da’ie perlu melakukan ibadat yang meninggikan roh dan jiwanya, perlu belajar untuk membetulkan amalannya dan mengetahui halal dan haram dan tidak melampau atau berkurang (pertengahan) atau dengan kata lainnya bersederhana dalam setiap urusan dalam kehidupannya.


7) Mampu melawan nafsu (Mujahadah ala Nafsi)

Seorang da’ie perlu mempunyai azam yang kuat untuk melawan kehendak nafsunya dan mengikut kehendak Islam di samping tidak menghiraukan apa orang lain kata dalam mempraktikkan Islam yang sebenarnya. Perlulah diingatkan bahawa dai’e mungkin melalui suasana sukar yang tidak akan dapat dihadapi oleh orang yang tidak biasa dengan kesusahan.


Menjaga waktu (Haarithun ala Waqtihi)

Sentiasa beringat bahawa waktu, nilainya lebih mahal dari emas, waktu adalah kehidupan yang tidak akan kembali semula. Mengimbau kembali sejarah di zaman dahulu, para sahabat sentiasa berdoa agar diberkati waktu yang ada pada mereka.


9) Tersusun dalam urusan (Munazzamun fi syu’unihi)

Untuk manfaatkan waktu dengan baik, maka timbulnya keperluan kepada penyusunan dalam segala urusan. Gunakanlah segala masa dan tenaga tersusun untuk manfaat Islam dan dakwah.


10) Berguna untuk orang lain. (Nafi’un li ghairihi)

Da’ie umpama lilin yang membakar diri untuk menyuluh jalan orang lain. Da’ie adalah penggerak kepada dakwah dan Islam. Masa depan Islam, hidup dan terkuburnya Islam bergantung kepada da’ie. Amal Islam seorang da’ie ialah untuk menyelamatkan orang lain daripada kesesatan. Da’ie akan sentiasa merasa gembira bila dapat membantu orang lain. Paling indah dalam hidupnya ialah bila dapat mengajak seorang manusia ke jalan Allah.

Wednesday, October 26, 2011

Khasiat Surah Al-Waqiah


Sabda Rasulullah s.a.w.: “Sesiapa membaca surah Al-Waqi’ah setiap hari, ia tidak akan ditimpa kefakiran.”

Sabda Rasulullah s.a.w. : “Siapa membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kesusahan atau kemiskinan selama-lamanya. (Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu Mas’ud r.a.)

Sabda Rasulullah s.a.w. : “Ajarkanlah surah Al-Waqi’ah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady)

Sabda Rasulullah s.a.w. : “Barang siapa yang membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam maka dia tidak akan tertimpa kefakiran dan kemiskinan selamanya. Dan surah Al-Waqi’ah adalah surah kekayaan, maka bacalah ia dan ajarkan kepada anak-anakmu semua.”


Menurut fatwa sebahagian Ulama’ katanya: “Barangsiapa membaca surah Al-Waqi’ah pada setiap hari dan malam dalam satu majlis sebanyak 40 kali, selama 40 hari pula, maka Allah akan memudahkan rezekinya dengan tanpa kesukaran dan mengalir terus dari pelbagai penjuru serta berkah pula.”



Surah Al-Waqi’ah adalah surah yang ke -56 di dalam Al-Quran, terletak pada juzuk ke 27 dan terdiri dari 96 ayat. Dinamakan Al-Waqi’ah kerana di ambil dari lafal Al-Waqi’ah yang terdapat pada ayat pertama surah ini, yang ertinya kiamat. Di dalam surah Al-Waqi’ah ini menerangkan tentang hari kiamat, balasan yang diterima oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Diterangkan pula penciptaan manusia, tumbuh-tumbuhan, dan api, sebagai bukti kekuasaan Allah dan adanya hari berbangkit.

Di dalam surah Al-Waqi’ah terkandung beberapa khasiat, antara lain:

Bila orang membiasakan membaca surah ini setiap malam satu kali, maka dia dijauhkan dari kemiskinan selamanya.

Bila di baca 14 kali setiap selesai solat Asar, maka orang yang membacanya itu akan memperoleh kekayaan yang berlimpah ruah.

Jika di baca surah ini sebanyak 41 kali dalam satu majlis (sekali duduk), insyaAllah di tunaikan segala hajatnya khususnya yang berkaitan dengan rezeki.
Supaya menjadi orang yang kaya sentiasa bersyukur, amalkan membaca surah ini sebanyak 3 kali selepas solat subuh dan 3 kali selepas solat Isya’. InsyaAllah tidak akan berlalu masa setahun itu melainkan ia akan di jadikan seorang yang hartawan lagi dermawan.

Amalan orang-orang sufi, supaya dilimpahkan rezeki. Hendaklah berpuasa selama seminggu bermula pada hari Jumaat. Setiap selepas solat fardhu bacalah Surah Al-Waqi’ah ini sebanyak 25 kali sehinggalah sampai pada malam Jumaat berikutnya; pada malam Jumaat berikutnya itu, selepas solat Maghrib bacalah surah ini sebanyak 25 kali, selepas solat Isya’ bacalah surah ini sebanyak 125 kali diikuti dengan selawat keatas Nabi sebanyak 1000 kali. Setelah selesai, hendaklah ia memperbanyakkan sedekah. Kemudian amalkanlah surah ini sekali pada waktu pagi dan petang. Insya’Allah berhasil.


Surah ini jika dibaca disisi mayat atau orang yang sedang nazak, insyaAllah di permudahkan untuk roh keluar dari jasadnya. Jika dibaca disisi orang sakit, diringankan kesakitannya. Jika di tulis, kemudian dipakaikan kepada orang yang hendak bersalin, InsyaAllah segera melahirkan dengan mudah. Boleh juga dibaca disisi orang yang hendak bersalin sebagai selusuh.

Friday, October 21, 2011

KELEBIHAN SURAH ALIKHLAS (MAJLIS QUL-HU )

Diriwayatkan oleh Iman Bukhari sabda Nabi Muhammad s.a.w: “Barang siapa membaca Qul huwa”llahu ahad 100,000 kali maka sesungguhnya ia telah menebus dirinya dari Allah, maka menyeru yang menyeru dari pihak Allah di langit dan di bumi. Kusaksikan bahwa sifulan itu telah menjadi pemendekaan Allah sesungguhnya ia adalah pemerdekaan dari sisi Allah, Sesungguhnya ia adalah pemerdekaan dari neraka”.

Inilah yang dinamakan membaca Qulhua”llahuahad satu khatam yaitu 100,000 kali dengan diwiridkan seberapa ribu kesanggupan kita sehari. Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud: “Barangsiapa membaca surah Al- Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia dari kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke syurga”. (Demikian diterangkan dalam Tadzikaratul Qurthuby).

Rasulullah SAW pernah bertanya sebuah teka-teki kepada umatnya “Siapakah antara Kamu yang dapat khatam Qur’an dalam jangkamasa dua-tiga minit?” Tiada seorang dari sahabatnya yang menjawab.

Malah Saiyidina Ummar telah mengatakan bahawa ianya mustahil untuk mengatam Qur’an dalam begitu cepat. Kemudiannya Saiyyidina Ali mengangkat tangannya. Saiyidina Ummar bersuara kepada Saiyidina Ali bahawa Saiyidina Ali (yang sedang kecil pada waktu itu) tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Saiyidina Ali membaca surah Al- Ikhlas tiga kali. Rasulullah SAW menjawab dengan mengatakan bahawa Saiyidina Ali betul. Membaca surah Al-Ikhlas sekali ganjarannya sama dengan membaca 10 jus kitab Al-Quran. Lalu dengan membaca surah Al- Ikhlas sebanyak tiga kali qatamlah Quran kerana ianya sama dengan membaca 30 jus Al-Quran.

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: “Ketika saya (Rasulullah SAW) israk ke langit, maka saya telah melihat Arasy di atas 360,000 sendi dan jarak jauh antara satu sendi ke satu sendi ialah 300,000 perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak 12,000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80,000 malaikat yang mana kesemuanya membaca surah Al- Ikhlas.”

Setelah mereka selesai membaca surah tersebut maka berkata mereka: “Wahai Allah kami, sesungguhnya pahala dari bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surah Al-Ikhlas baik ianya lelaki mahupun perempuan”.

Sabda Rasulullah SAW lagi: “Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahad itu tertulis disayap malaikat Jibrail a.s, Allahhus Somad itu tertulis di sayap malaikat Mikail a.s, Lamyalid walam yuulad tertulis pada sayap malaikat Izrail a.s, Walam yakullahu kufuwan ahadu tertulis pada sayap malaikat Israfil a.s”.

Siapa membaca surah Fatihah, al-ikhlas, al-falaq, dan an-annas setiap satu sebanyak 7 kali selepas solat jumaat, nescaya terpelihara dari perkara keji dan segala bala hinggalah ke jumaat yang berikiutnya.

Jika dibaca 3 surah ini al-ikhlas, al-falaq dan an-nass pagi dan petang nescaya tidak mengalami apa-apa kesusahan.

Jika sekiranya kawan-kawan ingin mengumpul saham akhirat, sampaikanlah ilmu ini kepada kawan2 yang lain. Sepertimana sabda Rasulullah SAW “Sampaikanlah pesananku walaupun satu ayat”.

Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :

1) Sedekah/amal jariahnya

2) Doa anak-anaknya yang soleh

3) Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

Tuesday, October 18, 2011

IKHLASKAN SETIAP AMALAN KITA

Hari ini penting kita waspadai diri kita agar jangan sampai tergelincir oleh amal kita sendiri. Setan ini selalu buat usaha selama 24 jam bagaimana Iman dan Amal kita rusak walaupun itu hanya bergeser sedikit saja. Itu sebabnya penting kita mengenal Allah agar kita tidak sampai terjebak oleh syetan. Jika ada rasa aman terhadap amal, segera ucapkan “La haula wala Quwwata Illa Billah”, “Tiada daya upaya ( untuk taat ) selain pertolongan dari Allah”. Jika ada kebaikan yang ada kita perbuat, yakinilah bahwa itu semata-mata karena pertolongan Allah bukan karena kemampuan kita. Nabi SAW pernah berkata bahkan untuk mengangkat kedipan mata sekalipun ini atas pertolongan Allah. Jadi jangan pernah merasa kita mampu beramal, ini semata-mata karena Allah sayang sama kita, sehingga kita di tolong Allah untuk beramal. Jika ada yang memuji, kita kembalikan pujian ini kepada Allah, karena hanya Allah yang berhak dipuji. Kita ini tidak bisa buat apa-apa, semunya ini kerjaan Allah, jadi hanya Allah yang pantas di puji. Jangan pernah merasa mampu untuk beribadah, karena semua ibadah ini atas pertolongan Allah. Dalam sebuah riwayat dikatakan ada seorang Abid yang 300 tahun dia beribadah dengan penuh ketaatan, kerjanya sujud, dzikir, dan hanya memakan kurma yang tumbuh di pinggir sungai tempat dia sholat. Dia mengeluh dengan derajat surga yang Allah kasih. Lalu Allah keluarkan Abid tadi dari surga dan Allah tanya, “Siapa yang memberimu makan dari tumbuhan yang dapat mengeluarkan kurma tiap hari ? dari mana engkau mendapat kekuatan dalam beribadah ? siapa yang memberimu udara untuk bernafas ?” lalu Abid itu menjawab, “Engkau ya Allah” sehingga abid itu bertobat dan menerima keputusan Allah.

Pada Hakekatnya semua keadaan dan semua kemampuan ini adalah Allah yang buat dengan IradahNya, keinginannya. Jadi kalau ada orang yang tersesat dari jalan yang lurus pada hakekatnya Allah yang menyesatkan. Itulah sebabnya iblis ketika diminta pertanggung jawabannya, dia bilang, “Saya hanya bisa menggoda, tetapi perbuatan dosa itu adalah kemauan orang tersebut.” Nabipun di ajarkan Allah do’a untuk mempertahankan Hidayah : “Allahumma La Tudzi’ Qullubana Ba’daidz hadaitana Milladunka Rahmah antal wahab”, “Ya Allah janganlah engkau sesatkan aku setelah engkau memberi aku pertunjuk.”

Suatu hari Imam Syafei Rah.A bertemu dengan Iblis, lalu Iblis itu berkata, “Apa pendapatmu tentang saya, kalau saya ini adalah Allah yang menciptakan, jalan hidupku Allah yang menentukan, sifat yang ada dalam diriku Allah yang memberikan, tempat akhir tinggalku Allah yang memutuskan, menurutmu apakah aku ini Dzolim ?” Lalu Imam Syafei menjawab, “Jika Allah menciptakan kamu menurut kemauanmu, berarti Allah Dzolim. Sedangkan Allah Maha Suci dan Allah tidak Dzolim.” Lalu Iblis menjawab, “Jawabanmu benar. Tahukah engkau asbab pertanyaanku ini sudah 80 orang ulama aku sesatkan.” Allah tidak pernah dzolim, yang dzolim itu kita yaitu yang selalu menentang Allah dan bertindak menurut kemauan kita. Kemauan manusia ini selalu mengikuti nafsu, sehingga manusia ini mempunyai kecenderungan merusak. Jika Allah mengikuti kemauan kita berarti Allah tidak suci lagi karena Allah sudah merusak. Sedangkan Allah Maha Suci dan tidak merusak, sedangkan yang merusak itu adalah kita.

Allah jadikan hidup ini menurut kemauan Allah bukan kemauan mahluknya. Penting kita sandarkan kemauan kita kepada kemauan Allah, ini baru benar. Bukan hidup menurut kemauan kita, tetapi menurut kemauan Allah. Kita ini bisanya hanya mempertanyakan kemauan Allah, “Kenapa begini, kenapa begitu” padahal di dalam Al Qur’an Allah sudah bilang, “Allah ini tidak akan ditanya, Kitalah yang akan ditanya Allah.” Jaga prasangka baik kepada Allah, kalau Allah sudah tentukan surga buat kita nanti semuanya akan Allah mudahkan. Sahabat bertanya,”Jika Allah sudah tentukan surga dan neraka untuk kita buat apa kita beramal” Nabi SAW menjawab mahfum, “Apakah kamu sudah tahu dimana Allah tempatkan kamu. Beramal saja, jika Allah sudah janjikan Surga untukmu nanti Allah mudahkan (bantu / tolong) kamu dalam beramal.” Dalam setiap amal yang kita lakukan setan ini akan membuat 7 usaha atas amal kita :

Usaha menghalangi seseorang dari beramal, lalu disibukkan dalam perkara lain.

Jika beramal akan di buat tergesa-gesa biar tidak sempurna amalnya

di buat malas atau menunda-nunda dalam beramal agar tidak Istiqomah

Di tipu dari amal besar ke amal kecil

Beramal sembunyi-sembunyi tetapi dalam hatinya ingin diketahui orang banyak.

Di buat merasa bahwa dia telah berbuat amal ( ujub )

Di buat dia tidak yakin pada amal-amalnya.

Jadi usaha atas keihklasan ini bukanlah perkara yang mudah karena setan mengetahui bahwa amal yang Allah sukai adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas hanya kepada Allah. Kalaupun kita lewat godaan syetan ini, maka amal kita akan di seleksi di 7 langit, sebelum amal itu sampai kepada Allah :

Amal tertolak di langit pertama asbab adanya Ghibbah

Amal tertolak di langit ke dua asbab mengharapkan keduniaan

Amal tertolak di langit ke tiga asbab Ketakaburan ( sombong )

Amal tertolak di langit ke empat asbab adanya Ujub (rasa aman/mampu)

Amal tertolak di langit ke lima asbab adanya Hasad dan Dengki

Amal tertolak di langit ke enam asbab tidak ada rasa Mahabbah pada manusia

Amal tertolak di langit ke tujuh asbab ada Sum’ah dan Riya’

Monday, October 10, 2011

"KHURAFAT DAN TAHYUL MELEMAHKAN IMAN"



"KHURAFAT DAN TAHYUL MELEMAHKAN IMAN".

Khutbah Jumaat 23 September 2011 (dipetik dari laman web JAIS)

Umat Islam di Malaysia tidak dapat lari dari istilah khurafaat dan tahyul. Hal ini tidak dapat dinafikan kerana khurafat itu sendiri berakar umbi sejak zaman jahiliah lagi. Pada zaman jahiliah, mereka yang ingin bermusafir akan melepaskan seekor burung. Jika burung itu terbang ke kanan, maka ia akan meneruskan musafir kerana ia membawa alamat baik. Tetapi jika ia terbang ke kiri atau ke bawah, mereka akan menangguhkan pemergian kerana ditakuti akan ditimpa bala malapetaka.

Tahyul pula mempunyai hubungkait dan makna yang sama yang meliputi cerita-cerita yang mempersonakan dan bercampuraduk dengan perkara-perkara yang dusta. Untuk kita mengenali adakah ianya khurafat atau tidak adalah berdasarkan ciri-ciri berikut;

Pertama : Amalan yang tidak didasarkan pada nas-nas syarak (al-Quran atau hadis Nabi saw.

Kedua : Mengandungi cerita-cerita rekaan, dongeng, khayalan atau karut.

Ketiga : Khurafat bersumberkan kepada kepercayaankepercayaan lama dan bercanggah dengan ajaran Islam.

Keempat : Khurafat menggunakan objek-objek tertentu seperti keris, batu cincin, kayu koka dan sebagainya.

Kelima : Khurafat mempunyai unsur-unsur negatif dari segi akidah dan syariah.

Keenam : Khurafat berbentuk pemujaan dan permohonan kepada makhluk halus melalui kubur, patung, pokok dan sebagainya.


Khurafat adalah satu bentuk penyelewengan akidah. Ia menyalahi pergantungan manusia kepada pencipta-Nya iaitu Allah sebaliknya berpaling kepada makhluk yang dicipta Allah. Malah Al-Quran telah mengarahkan agar manusia bergantung kepada Allah dan menolak kepercayaan selainnya agar kita memperoleh kebaikan dan menolak keburukan.

Sesungguhnya mempercayai perkara khurafat dan tahyul akan menjadikan umat Islam semakin mundur, malas berusaha dan hanya berserah kepada takdir. Ini bertentangan dengan prinsip Islam yang menggalakkan umatnya berlumba lumba mencari kebaikan dan kejayaan. Kita akan menjadi umat yang ketinggalan dan hanya melihat kejayaan yang dicipta umat lain. Setiap bala bencana, musibah, terkurang dan terlebih rezeki adalah ketentuan Allah.

Marilah kita terus meningkatkan kefahaman Islam dengan memperkukuhkan akidah. Hadirkan diri ke majlis ilmu yang diadakan di masjid dan surau. Hindarkan diri kita daripada fahaman yang menyesatkan dan mengelirukan. Kembalilah kepada pegangan akidah yang sebenar supaya kehidupan kita di redhai oleh Allah di dunia dan di akhirat.